conversation II
Tidak, sayang.
Jangan terlalu khawatirkan luka itu.
Kekhawatiran yang sepatutnya tidak ada dalam kisah hidupmu.
Percayalah, ia tidak akan membunuhmu.
Ia malah akan membuatmu lebih kuat,
membuatmu bertahan melewati waktu,
membantumu memilih pijakan hidup yang tepat dalam menyempurnakan agamamu,
menemanimu menunggu pagi; menanti fajar kemenangan.
Mungkin saat ini kau ingin mengutuknya.
Tapi tunggulah sebentar,
lihatlah apa yang akan dibawa luka itu untukmu di ujungnya;
pelukan yang terasa lebih hangat dan (semoga) cinta yang lebih hebat.
Jangan tenggelam dan menghilang bersama senja.
Berikanlah persembahan terbaik terakhir untuknya.
Datanglah dengan jiwa yang tenang.
Temui masa lalumu dengan senyuman.
Lapangkan, dan gerimis ‘kan menjadi teman yang menyenangkan.
Pasti!!
nah gitu donk, itu baru namanya anak jampang sejati, khan masih ada DIA (satu huruf gw simpen biar yang lain kagak tau ya wed)
Agoes — June 6, 2007 @ 10:36 pm
“Insya Allah, Ani… Insya Allah, uh.. aahh… ” *mengutip Bang Oma sewaktu memeluk Ani dengan hangat. dan disertai kecupan lembut di kening*
“Astaghfirulloh, Bang.. Kamu cabuli aku dengan nama Tuhanmu…” *coba Ani jawab gitu ye..* Tapi, yaaah namanya juga perempuan. Mau aja dicumbu-rayu (kecuali emak gw dan perempuan2 yg sholehah, :p). Atau ngasih harapan yang.. “Ter-la-lu…” *gaya oma lagi*
I lllopppp youuu… *cuma ada di udel* uuuhhh ahhhh… *itu maksud sebenernye..
-bayu galih- — September 18, 2007 @ 9:43 pm