Mencari jalan pulang
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
Terbayangkan oleh benakku, di atas gundukan tanah merah yang masih basah, pelayat menaburkan kembang kesedihan sembari mendendangkan getir senandung kerinduan. Betapa kehilangan orang tercinta begitu mengguncang jiwa. Aku ada di sana hari itu, saat sore diiris gerimis airmata, untuk memberikan ucapan selamat jalan kepada ayah dari seorang sahabatku yang telah pergi meninggalkan dunia ini.
Terbayangkan oleh benakku, pada kayu bercat putih yang telah mengukir namanya juga semua kenangan yang tercipata pada putaran waktu, betapa setiap jiwa yang mati akan keras bekerja mencari jalan pulang. Jalan sepi yang panjang yang kelak pasti akan ku lalui nanti. Jalan sepi yang panjang yang belum sepenuhnya ku pahami kini. Menimbulkan ketakutan yang menuntunku mencari jalan itu. Dan tak ketemu. Ketakutan hanya membawaku kepada lautan pemikiran. Ketersesatan yang ke sekian kalinya. Keterasingan dalam riak airmata pelayat.
Aku memaki jiwaku. Betapa pandirnya ia karena ketidakbecusannya menciptakan sebuah jembatan ke langit dari setiap luka yang tercipta juga airmata dalam hidupku. Aku memaki jiwaku. Menjerit kepada langit yang setiap jeritanku semakin mengeraskan hatiku.
Ya, Rahmaan. Ya, Rahiim. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orangn-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (Al-Faatihah)
Sekarang langit tak lagi gerimis. Hanya menyisakan mendung di hati. Hanya menyisakan jejak yang masih tertinggal di tanah basah ketika kaki melangkah. Saatnya aku pamit, setelah sebelumnya mengokohkan semangat sahabatku, untuk melanjutkan perjalananku mencari jalan pulang yang membawaku kepada ketenangan. Ya, tenang. Jiwa yang tenang. AKu ingin tenang.