Celoteh Benak






         

March 13, 2009

Memaknai Keindahan

Filed under: Uncategorized — celotehbenak @ 7:43 pm

A thing of beauty is a joy forever:

Its loveliness increases; it will never pass into nothingness.

-John Keats-

Tuhan Maha Adil, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.  Selamanya akan demikian.  Perjalanan ini pada akhirnya ‘menghantarkan’ kerinduanku kepada-Nya melalui cara yang ku benci pada mulanya.  Mengajarkan hakikat ‘Hidup’ yang berujung pada satu kata; Indah.  Sy memercayainya, dengan segenap hati.  Penuh keikhlasan.  Mengharap ridho-Nya.

Ah, betapa saat ini sy begitu menyukai untaian kata-kata ini: Mengajarkan hakikat ‘Hidup’ yang berujung pada satu kata; Indah.  Amboi.  Entah mengapa.  Ada rasa yang teramat menyejukkan di dada ini setiap kalimat itu terbaca.

Begitulah adanya.  Sy telah melalui masa-masa yang tidak menyenangkan.  Tak ada yang paling tidak menyenangkan selain menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak berjalan seperti yang kita rencanakan.  Tak ada puisi.  Hari-hari selanjutnya terasa hambar.  Pagi terganti malam.  Pun sebaliknya.  Menjenuhkan.  Sangat.

Waktu berputar.  Gegas.  Melemparkan sy.  Keras.  Meski sejatinya sy ingin tetap berada dalam putaran waktu; senang, sedih, hitam, putih, malam, gerimis. Semuanya.  Betapa sy menikmati semua peristiwa-peristiwa itu.  Sy ingin tetap bertahan, namun apalah daya.

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?

dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,

yang memberatkan punggungmu,

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

QS. Alam Nasyarah: 1-8

Dalam buku favorit sy, Musyawarah Burung, Fariddudin Attar berkisah tetang burung Bulbul yang begitu mencintai mawar sehingga ia berkata, ‘Cukuplah bagiku keindahan mawar itu. Kuyakin sepenuhnya mawar itu akan selalu mengembangkan putik-putik sarinya karena kecintaannya jua kepadaku. Aku tak bisa hidup jika harus meninggalkannya. Aku tak mau hidup bila tak dapat lagi memandang rekahan mawar itu.’

Kawan, melupakan kenyataan bahwa sang mawar bisa melukai lewat duri-durinya adalah kesalahan.  Tetapi, melupakan bahwa sang mawar bisa menggugurkan kelopaknya adalah kebodohan.  Keindahan lahiriah adalah bersifat sementara.  Karena, di dalam segala kebesaran ada banyak keterbatasan seperti kepekatan awan yang sirna diterpa angin, begitulah alam mengalun harmoninya agar manusia belajar bagaimana merajut cinta (author unknown).

Sy telah belajar banyak di antara semua keindahan harmoni, dan sekarang sy sedang menikmati harmoni itu.  Sy merasa, sy telah melewati masa-masa yang tak menyenangkan.  SY bersyukur karenanya.  Betapa hidup yang sedang sy jalani ini ternyata mengalun indah.  Sangat-sangat indah.  Ya, indah.